Biografi Soeharto Lengkap | Profil, Biodata, Sejarah, Keluarga

Biografi Soeharto lengkap - Soeharto adalah tokoh militer Indonesia sekaligus menjabat sebagai presiden Indonesia kedua. Ia menjadi presiden Indonesia dengan masa jabatan terlama yakni selama 31 tahun, mulai tahun 1967 sampai 1998 yang disebut sebagai era orde baru. Di dunia barat, ia dijuluki The Smilling General karena sering tersenyum di acara-acara internasional.

Pada masa pemerintahan Soeharto, Indonesia menjadi macan Asia dan beberapa kali mencapai swasembada beras. Namun di sisi lain banyak kontroversi di masa pemerintahan, mulai hilangnya kebebasan berpendapat hingga korupsi terstruktur di era orde baru.

Berikut akan kami bagikan info profil dan biografi Soeharto lengkap meliputi tempat tanggal lahir, waktu wafat, profesi, riwayat hidup, perjalanan karir, masa kepresidenan, dan lain-lain.

Biodata Soeharto


Nama lengkap : Soeharto
Tempat lahir : Kemusuk, Yogyakarta
Tanggal lahir : 8 Juni 1921
Tempat meninggal : Jakarta
Tanggal meninggal : 27 Januari 2008 (usia 86 tahun)
Kebangsaan : Indonesia
Istri : Tien Soeharto
Profesi : Tentara, tokoh politik
Agama : Islam

(baca juga biografi Soekarno)

Biografi Soeharto

Biografi Soeharto


Berikut biografi Seharto lengkap dari masa kecil, menempuh pendidikan, karir militer, menjadi presiden, mundur dari presiden, kematian dan keluarga Soeharto.

Masa Kecil dan Pendidikan Soeharto


Soeharto lahir pada tanggal 8 Juni 1921 di dusun Kemusuk, desa Argomulyo, kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Ibunya bernama Sukirah, sedangkan ayahnya bernama Kertosudiro. Saat masih kecil, orang tuanya bercerai sehingga ibunya yang membesarkan Soeharto. Bahkan beberapa pihak meragukan bahwa Kertosudiro adalah ayah Soeharto yang sebelumnya. Hal ini karena sumber catatan sejarah yang berbeda.

Ibunya kemudian menikah lagi dengan Pramono yang menjadi ayah tiri Soeharto. Saat kecil, Soeharto yang merupakan anak desa banyak berkutat dengan sawah dan gembala kerbau. Ia juga menempuh pendidikan, tapi sering berpindah-pindah sekolah. mulai dari SD Puluhan, Godean, hingga ke SD Pedes, Yogyakarta.

Ia sempat dititipkan ke bibinya serta mendapat pendidikan akademik dan agama dari keluarga bibinya. Karena suami bibinya adalah petani, maka Soeharto mulai gemar bertani. Ia pun paham dan menekuni pertanian. Setelah lulus sekolah dasar, ia tinggal di rumah Hardjowijono, teman ayahnya yang jadi pengikut tokoh agama terkemuka di Wonogiri, Kiai Darjatmo.

Soeharto melanjutkan pendidikan SMP di SMP Muhammadiyah Yogyakarta. Selepas SMP, Soeharto tidak bisa melanjutkan pendidikan SMA karena faktor biaya yang mahal. Soeharto kemudian mendaftarkan diri menjadi anggota KNIL (Koninklijk Nederlands Indisce Leger), pasukan tentara kerajaan Belanda. Ia pun diterima menjadai tentara dengan pangkat sersan, sebelum akhirnya Belanda menyerah pada Jepang.

Karir Militer Soeharto



Usai Belanda menyerah dari Jepang, Soeharto pun menjadi pasukan tentara militer PETA bentukan Jepang. Saat Indonesia merdeka di tahun 1945, Soeharto menjadi komandan brigade Garuda Mataram dengan pangkat letnan kolonel. Ia memimpin beberapa operasi militer, hingga kemudian ditunjuk sebagai komandan Angkatarn Perang Republik Indonesia Serikat.

Atas saran Sultan Hamengkubuwono IX kepada Panglima Besar Soedirman, Soeharto juga turut serta dalam serangan umum 1 Maret 1949 dan berhasil menduduki kota Yogyakarta. Pada tahun 1956, Soeharto diangkat sebagai Kepala Staf Panglima Tentara dan Teritorium IV Diponegoro di Semarang. Setahun berselang, pangkatnya kembali naik menjadi kolonel.

Saat usianya 38 tahun, pangkatnya naik lagi menjadi brigadir jenderal dan kemudian diangkat sebagai Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat. Soeharto merangkap jabatan juga sebagai Panglima Komando Pertahanan Angkatan Darata. Ia juga beberapa kali mendapat tugas operasi militer ke luar negeri.

Di tahun 1962, pangkatnya kembali naik menjadi mayor jenderal (mayjen). Ia bahkan ditugasi sebagai Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat, sekaligus menjadi Deputi Wilayah Indonesia Timur. Selanjutnya ia dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat dan ditugaskan untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Soeharto lalu dilantik sebagi Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) sehingga punya wewenang penuh untuk membubarkan orang-orang yang terlibata pemberontakan G-30-S/PKI. Hal ini diperkuat dengan turunya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dari presiden Soekarno yang memberi mandat Soeharto untuk mengambil tindakan yang diperlukan guna memulihkan keamanan dan ketertiban.

Soeharto pun segera membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan menangkap tokoh-tokoh PKI yang terlibat, bahkan banyak yang dihukum mati. Tindakan ini dikecam oleh dunia internasional karena dianggap sebagai pelanggaran HAM berat. Soeharto kemudian ditunjuk sebagai pejabat presiden pada tahun 1967 melalui sidang istimewa MPRS.

Masa Kepresidenan Soeharto



Soeharto menerima penyerahan kekuasaan dari Soekarno dan resmi dilantik sebagai presiden pada 7 Maret 1967. Saat itulah mulai dikenal istilah pemerintahan orde baru, menggantikan pemerintahan orde lama di masa pemerintahan Soekarno. Pada akhirnya Soeharto memerintah Indonesia selama 31 tahun sampai tahun 1998.

Selama menjabat, Soeharto mendapat julukan Bapak Pembangunan Indonesia. Pembangunan infrastruktur memang cukup gencar dilakukan di era orde baru ini. Kondisi ekonomi di era Soeharto juga meningkat terus dan stabil. Bahkan Indonesia sempat dijuluki macan Asia, setelah mampu mencapai swasembada pangan dan beras.

Ia juga resmi bergabung dengan partai politik Golkar pada tahun 1984. Karena pengaruh dan kuasanya, Soeharto juga selalu memenangi pemilu presiden lewat sidang MPR tiap 5 tahunnya. Beberapa tokoh yang pernah menjabat sebagai wakil presiden di era presiden Soeharto antara lain adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX (1973-1978), Adam Malik (1978-1983), Umar Wirahadikusumah (1983-1988), Sudharmono (1988-1993), Try Sutrisno (1993-1998), BJ Habibie (1998).

Selama masa kepemimpinan Soeharto, kebebasan berpendapat publik dan pres memang banyak dikekang. Beberapa media massa yang gemar mengkritik pemerintah dibubarkan. Selain itu aktivis-aktivis yang gemar bersuara banyak yang dibungkam. Ia juga kerap meminggirkan penduduk etnis Tionghoa selama orde baru.

Kekuasaan Soeharto dinilai terlalu besar, baik di bidang politik, ekonomi, dan sosial. Banyak kasus pelanggaran HAM di Indonesia terjadi oleh campur tangan pemerintah. Selain itu tiap pemilu akan dilakukan sudah ketahuan siapa pemenangnya. Bisa dibilang indeks demokrasi di era orde baru di bawah Soeharto ini sangat buruk.

Persitiwa 1998 dan Mundurnya Soeharto


Pada tahun 1997, terjadi krisis moneter Asia yang juga melanda Indonesia. Adanya krisis ekonomi disertai krisis politik yang sudah berlangsung sejak lama mendorong gelombang aksi massa yang besar di semua daerah. Demonstrasi terjadi dimana-mana dengan diwarnai kerusuhan dan tekanan militer. Puncaknya mahasiswa dan demonstran menduduki gedung DPR dan MPR RI.

Akibatnya banyak korban jiwa tewas akibat tindakan represif aparat pada Tragei Trisakti dan Tragedi Semanggi. Banyak juga aktivis yang hilang dan diculik saat masa demonstrasi ini. Peristiwa ini pun berujung pada mundurnya Soeharto dari jabatan presiden pada 21 Mei 1998 untuk menghindari perpecahan dan ketidakstabilan di Indonesia.

Jabatan presiden pun kemudian diteruskan oleh BJ Habibie yang sebelumnya menjadi wakil presiden Soeharto. Pemerintahan Soeharto pun berakhir setelah hampir 32 tahun lamanya. Temuan baru pun mengungkap jika Soeharto banyak melakukan korupsi lewat penyaluran dana ke lembaga dan yayasan yang dikelolanya.

(baca juga biografi BJ Habibie)

Kematian Soeharto


Usai mundur dari presiden, Soeharto menderita sakit parah. Upaya untuk mengadili Soeharto terkait tindakan korupsi yang ia lakukan pun tertunda terus karena kondisi kesehatan Soeharto yang menurun. Pada tanggal 27 Januari 2008, Soeharto meninggal dunia di RS Pusat Pertamina Jakarta pada usia yang ke 86 tahun.

Jenazah Soeharto dimakamkan di Astana Giri Bangun, Solo di kediaman keluarga Cendana. Upacara pemakaman dipimpin oleh presiden Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono selaku inspektur upacara. Kematian Soeharto pun menjadi berita nasional dan internasional yang disorot.

Keluarga Soeharto


Soeharto menikah dengan Rade Ayu Siti Hartinah, yang kemudian dikenal dengan nama Tien Soeharto. Ia merupakan anak KRMT Soemoharyomo, seorang werdana di Solo. Keduanya menikah pada tanggal 26 Desember 1947 di kota Solo. Saat itu Soeharto berusia 26 tahun, sedangkan Tien berusia 24 tahun.

Keduanya kemudian memiliki 6 orang anak yakni Siti Hardiyanti Hastuti (Tutut Soeharto), Sigit Harjojudanto (Sigit Soeharto), Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Harijadi (Titiek Soeharto), Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek Soeharto).

Nah itulah info lengkap mengenai biografi Soeharto singkat besera profil, biodata, riwayat hidup, masa kepresidenan, kematian dan keluarga Soeharto dari dulu sampai sekarang. Terlepas dari berbagai kontroversinya, Soeharto tetap dikenang sebagai presiden Republik Indonesia yang kedua dan menjabat selama lebih dari 30 tahun.

0 Response to "Biografi Soeharto Lengkap | Profil, Biodata, Sejarah, Keluarga"

Posting Komentar